Jumat, Januari 11, 2008
Saat ini manakala sudah terjadi pergeseran dari pasar tradisional ke pasar modern, maka kadang kadang kita merasakan ada sesuatu yang hilang. Cobalah kita bandingkan sekian puluh tahun yang lalu dimana kita masih sering berbelanja kebutuhan sehari hari semacam : beras, minyak, gula, kopi, biscuit, rokok dan lain sebagainya di sebuah warung. Tetapi tiba tiba sekarang warung warung tersebut mulai berkurang. Orang lebih suka berbelanja di supermarket yang punya keunggulan : bersih, tempatnya luas, stok barangnya melimpah, tidak ada tawar menawar dan sebagainya. Namun sekaligus juga kita perhatikan bahwa senyum dan ketulusan hati para pramuniaganya kadang kadang terasa dibuat buat dan terkesan mengejar ngejar kita manakala mereka menawarkan produk baru kepada customernya.
Suatu sore saya mencoba berbelanja di sebuah mini market yang berLabel Indomaret. Sebuah warung modern, istilah saya. Semua stoknya ditata bagus dikelompokkan sesuai dengan macam barangnya, sesekali masih ada pramuniaga yang tampak mencocokkan stok dengan catatannya. Ketika saya selesai membeli, waktu itu sebungkus roti tawar dan sebungkus kopi bubuk maka saya bergegas kekasir untuk membayarnya. Kasir sambil menerima uang saya dia menawarkan: “ Mentega atau selainya nggak sekalian pak ?” dan ketika dia memasukkan kopi saya kedalam tas plastic, otomatis dari mulutnya terucap “ Gulanya nggak sekalian Pak, atau Tropicana gula buatannya Pak, barangkali?” Didalam hati saya berkata, kalau dilihat konsepnya sih memang modern tetapi pelayannannya masih ada “Personal Touch” yang amat bagus. Sungguh suatu yang pantas ditiru bagi semua pelaku bisnis yang berkecimpung baik itu bisnis retail maupun bisnis jasa. Memang kadangkala kita melupakan hal hal sepele semacam sapaan dan senyuman kita kepada para customer kita. Tahukah kita bahwa sapa dan senyum adalah sarana kita untuk melakukan peningkatan omset bagi toko atau gerai kita. Mari kita budayakan sapa dan senyum kepada setiap orang.
0 Comments:
Post a Comment